Kamis, 19 Mei 2011

Tahura Nipa-Nipa Terpilih sebagai Obyek "Pesona Nusantara" acara TVRI

LPP  TVRI  Sulawesi Tenggara "Shooting acara Pesona Nusantara" di Alolama

Sabtu, 7 Mei 2011

Berdasarkan Surat LPP TVRI Stasiun Sulawesi Tenggara Nomor 113/IV.3/TVRI/2011 Perihal Izin Lokasi Shooting tanggal 2 Mei 2011.  maka Balai Tahura Nipa-Nipa merespon baik rencana tersebut, maka pada hari Sabtu 7 Mei 2011 dilaksanakan kegiatan shooting "Pesona Nusantara" di lokasi obyek wisata alam Alolama.  agenda acara sebagai berikut :
  • Penerimaan Kru TVRI di Pos Jaga Alolama
  • Pengambilan gambar (Shooting) di lokasi permandian alam Alesowi (sungai Korumba)
  • Menyusuri joging track menuju ke lokasi Air Terjun Sungai Belanda.
  • Pengambilan gambar (shoting ) di Air Terjun Sungai Belanda
  • Kru TVRI pamit kembali di Pos Jaga
Gambar : Kru TVRI, tampak takjub melihat pemandangan Air Terjun S. Belanda
 
 Menyusuri Joging Track dari lokasi kolam permandian ke Air Jatuh

 Kepala Balai Tahura Nipa-Nipa sedang di wawancarai oleh presenter TVRI
Presenter TVRI dengan latar belakang air terjun S. Belanda

Petugas Pos Jaga " sedang mengawasi para pengunjung 

Petugas Pos Jaga, mengantar salah seorang kru TVRI
Acara TVRI tersebut merupakan paket acara "Pesona Nusantara" untuk disiarkan secara nasional pada hari selasa 24 Mei 2011 pukul  13.00 Wita.

Terima kasih, Salam Lestari

By. Rustam  BR. SP., MP
Kasi Pengembangan & Perlindungan


·        
SATWA TAHURA NIPA-NIPA
DEKAT DENGAN MANUSIA YANG MENYAYANGINYA

Ular Piton (Phyton reticulatus)
Seekor satwa liar Kawasan Taman Hutan Raya Nipa-Nipa, sedang bercengkrama dengan Kepala Balai Tahura Nipa-Nipa (Ir.H.Ansar).  satwa tersebut begitu Jinak, sehingga menjadi obyek tontonan warga sekitar.  Ular tersebut ditemukan di sekitaran kawasan hutan Alolama.  Ular tersebut gemar menyantap babi hutan, kebetulan jenis babi tersebut cukup banyak populasinya di kawasan ini.   Babi ini, cukup meresahkan masyarakat karena mengganggu hasil-hasil kebun mereka.
Kus-Kus (Phalanger spp)
Kus-Kus merupakan salah satu satwa liar yang menghuni kawasan Taman Hutan Raya Nipa-Nipa.  satwa tersebut hidup di pepohonan, menyerupai bajing. kalau jenis satwa ini, masuk ke rumah warga sebagian berteriak " hiii ada nenek moyangnya tikus" . padahal satwa ini kalau kita dekati dan memperlakukannya dengan baik akan jinak.

Buktinya.  Gambar di atas seorang anak kecil menggendong Kus-Kus tanpa ada rasa takut dan jijik.  bahkan menjadi teman bermain yang asyik
Makanya....satwa jangan selamanya dianggap musuh, karena pada dasarnya mereka juga punya hak hidup dalam habitatnya.  bahkan merupakan salah satu komponen jaring makanan, selanjutnya penentu jaring kehidupan.  sehingga ekosistem kita senantiasa dalam keadaan seimbang (balance).
Salam Lestari.
By.  Rustam  BR, SP., MP.






Kamis, 05 Mei 2011

Personel Balai Taman Hutan Raya Nipa-Nipa

Inilah personel Balai Taman Hutan Raya Nipa-Nipa yang mengabdikan dirinya untuk terjaganya kelestarian Tahura Nipa-Nipa. Personil Balai Tahura Nipa-Nipa berjumlah 29 Orang yang terdiri dari 26 Pegawai Negeri Sipil dan 3 Orang Pegawai Honorer. 

TAHURA NIPA-NIPA


DARI “MURHUM” – JADI “NIPA-NIPA”
Sebagian besar yang mengenal Tahura Nipa-Nipa, masih menyebutnya dengan nama Murhum.  Sebutan ini, dapat dimaklumi karena Tahura Nipa-Nipa sejak tahun 1995 Kawasan Gunung Nipa-Nipa bernama “MURHUM”, yakni pada saat  Penunjukan Kawasan hutan Gunung Nipa-Nipa Seluas ± 8.146 Ha Yang Terletak Di Kabupaten Daerah Tingkat II Kendari, Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara Sebagai Taman Hutan Raya Dengan Nama Taman Hutan Raya Murhum (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 289/Kpts-II/95 tanggal 12 Juni 1995).   Selanjutnya pada tahun 1999, Tahura Murhum ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Tetap seluas 7.877,5 Ha (Keputusan Menteri Kehutanan No. 103/Kpts-II/1999 tanggal 1 Maret 1999).

Makam “SULTAN MURHUM”         di Kompleks Keraton Buton    Kota Bau-Bau
Murhum adalah nama Raja Buton terakhir dan juga nama Sultan Buton pertama (peralihan dari sistem kerajaan menjadi kesultanan ) sebagai kehormatan pada raja dan sultan yang pernah berkuasa di wilayah maka diabadikan namanya pada Tahura ini ( Tahura Murhum ), hal ini sejalan dengan pemberian nama Tahura di Provinsi lain yaitu sesuai ketentuan saat itu bahwa pemberian nama Tahura adalah nama Tokoh maupun Pejuang dari Provinsi yang bersangkutan, misalnya Tahura Juanda di Provinsi Jawa Barat, Tahura Wan Abdul Rahman di Provinsi Lampung.
Mengapa sekarang berubah menjadi Tahura Nipa-Nipa yang sebenarnya adalah nama tumbuhan ? perubahan nama ini terjadi, atas usul dan saran anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara pada saat pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Tahura Murhum. Perubahan nama Tahura ini menggunakan pendekatan kewilayahan saja, sejak 31 Mei 2007 Perubahan nama Tahura Murhum menjadi Tahura Nipa-Nipa sesuai dengan yang diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Taman Hutan Raya Nipa-Nipa.